Benzena merupakan molekul segienam datar dengan
atom-atom karbon yang terletak pada keenam sudutnya. Semua ikatan karbon-karbon
sama panjang dan kuatnya, sama halnya dengan semua ikatan karbon-hidrogen, dan
semua sudut CCC dan HCC adalah 120ยบ. Jadi, setiap atom karbon terhibridisasi sp²,
setiap atom itu membentuk tiga ikatan sigma dengan dua atom karbon di sebelahnya
dan dengan atom hidrogen. Susunan ini menyisakan satu orbital 2pz
yang tidak terhibridisasi pada setiap atom karbon, tegak lurus terhadap
bidang molekul benzena, atau cincin benzena, satu sebutan yang sering
digunakan. Sejauh ini uraiannya menyerupai konfigurasi etilena (C2H4),
kecuali dalam hal ini terdapat enam orbital 2pz tidak
terhibridisasi dalam susunan melingkar.
Showing posts with label Materi Kimia. Show all posts
Showing posts with label Materi Kimia. Show all posts
Sunday, 20 May 2018
Senyawa Aromatik: Benzena dan Turunannya
Benzena (C6H6) adalah senyawa induk
dari golongan besar zat organik ini. Sifat-sifat benzena paling baik
digambarkan dengan kedua struktur resonansi berikut:
Monday, 14 May 2018
Struktur Kristal
Padatan dapat dibagi menjadi dua kelompok: kristal dan amorf. Es
merupakan padatan kristal (crystalline solid), yang memiliki keteraturan yang kaku dan
menjangkau-jauh; atom-atomnya, molekul-molekulnya, atau ion-ionnya menempati
tempat tertentu. Susunan atom, molekul, atau ion dalam padatan kristal
adalah sedemikian rupa sehingga gaya tarik-menarik antarmolekul neto pada
keadaan maksimumnya. Gaya yang menyebabkan kestabilan kristal dapat berupa gaya
ion, ikatan kovalen, gaya van der Waals, ikatan hidrogen, atau kombinasi
gaya-gaya ini. Padatan amorf seperti
gelas tidak memiliki susunan yang tertata baik dan keteraturan molekul yang
menjangkau-jauh.
| Figure 11.14 (a) A unit cell, and (b) Its extension in three dimension. The back spheres represent either atoms or molecules |
Friday, 11 May 2018
Mekanika Kuantum
Keberhasilan yang luar biasa dari teori Bohr diikuti oleh banyak kekecewaan. Pendekatan Bohr ternyata tidak dapat menjelaskan spektrum pancar atom-atom yang mengandung lebih dari satu elektron, seperti helium dan litium. Demikian juga teori Bohr tidak dapat menjelaskan munculnya garis-garis tambahan dalam spektrum pancar hidrogen bila diberi medan magnetik. Masalah ini muncul akibat penemuan bahwa elektron adalah seperti gelombang: Bagaimana “posisi” gelombang dapat ditentukan? Kita dapat menentukan posisi gelombang secara tepat karena gelombang menyebar di dalam ruang.
Dualisme sifat elektron secara khusus menimbulkan masalah karena massa elektron yang sangat kecil. Untuk menguraikan masalah penentuan posisi partikel subatomik yang berperilaku seperti gelombang, fisikawan Jerman Werner Heisenberg merumuskan apa yang sekarang kini dikenal sebagai prinsip ketidakpastian Heisenberg (Heisenberg uncertainty principle): “tidak mungkin untuk mengetahui serentak momentum (massa x kecepatan) dan posisi partikel dengan pasti”. Secara matematis dirumuskan:
Friday, 25 December 2015
Gaya Dispersi dan Ikatan Hidrogen
1. Gaya Dispersi
Sejauh ini hanya
spesi-spesi ion dan molekul polar yang telah dibahas. Interaksi tarik-menarik
seperti apa yang ada antara molekul-molekul nonpolar? Untuk belajar menjawab
pertanyaan ini, perhatikan susunan yang ditunjukkan pada Gambar 11.4. Jika kita
menempatkan ion atau molekul polar di dekat suatu atom (atom molekul nonpolar),
distribusi elektron pada atom (atau molekul) itu akan terganggu dengan gaya
yang dilakukan oleh ion atau molekul polar tersebut. Dipol yang dihasilkan
dalam atom (atau molekul) itu disebut dipol terinduksi (induced
dipole) sebab pemisahan muatan positif dan negatif dalam atom (atau
molekul nonpolar) itu disebabkan oleh kedekatannya dengan suatu ion atau
molekul polar. Interaksi tarik-menarik antara ion dan dipol terinduksi
disebut interaksi ion-dipol terinduksi, dan interaksi tarik-menarik
antara molekul polar dan dipol terinduksi disebut interaksi dipol-dipol
terinduksi.
Kemungkinan momen dipol
akan terinduksi bergantung bukan hanya pada muatan ion atau kekuatan dipol
tetapi juga bergantung pada keterpolaran atom atau molekul. Keterpolaran (polarizability)
adalah kemudahan terganggunya distribusi elektron dalam suatu atom (atau
molekul). Umumnya, semakin banyak jumlah elektron dan semakin menyebar awan
elektron dalam atom atau molekul, akan semakin besar keterpolarannya. Yang
dimaksud dengan awan yang menyebar adalah awan elektron yang tersebar
dalam volume yang cukup besar, sehingga elektron-elektron tersebut tidak terikat
kuat oleh inti.
Gaya Dipol-Dipol dan Ion-Dipol
1. Gaya Dipol-Dipol
Gaya dipol-dipol (dipole-dipole forces) merupakan gaya yang bekerja antara molekul-molekul polar, yaitu antara molekul-molekul yang memiliki momen dipol. Asal gaya ini adalah gaya elektrostatik. Makin besar momen dipolnya, makin kuat gayanya. Gambar 11.1 menunjukkan orientasi molekul polar dalam suatu padatan. Dalam cairan, molekul-molekul tidak terikat sekaku seperti pada padatan, tetapi molekul-molekul cenderung tersusun sedemikian rupa sehingga, secara rata-rata, interaksi tarik-menarik pada keadaan maksimum.
2. Gaya Ion-Dipol
Interaksi elektrostatik juga menjelaskan gaya ion-dipol (ion-dipole forces) yang terjadi antara suatu ion (bisa kation atau anion) dengan suatu molekul polar (Gambar 11.2). Kekuatan interaksi ini bergantung pada muatan dan ukuran ion dan pada besarnya momen dipol dan ukuran molekul. Muatan kation umumnya lebih terpusat, karena kation biasanya lebih kecil daripada anion. Jadi, untuk muatan yang sama, kation berinteraksi lebih kuat daripada anion.
Gaya Antarmolekul
Gaya tarik di antara
molekul-molekul, disebut gaya antarmolekul (intermolecular
forces), menyebabkan perilaku gas nonideal. Gaya ini juga menentukan
keberadaan materi terkondensasi-cairan dan padatan. Ketika suhu gas turun,
energi kinetik rata-rata molekulnya turun. Akhirnya, pada suhu yang cukup
rendah, molekul-molekul itu tidak lagi memiliki cukup energi untuk memisahkan
diri dari tarikan molekul lainnya. Pada titik ini, molekul-molekul mengelompok
untuk membentuk tetes-tetes cairan yang kecil. Fenomena perubahan dari wujud
gas menjadi cair dikenal sebagai pengembunan.
Teori Kinetik Molekul Cairan dan Padatan
Kita menggunakan teori
kinetik molekul untuk menjelaskan perilaku gas. Penjelasan itu didasarkan pada
pemahaman bahwa sistem gas merupakan kumpulan molekul dalam gerak yang acak dan
tetap. Pada gas, jarak antara molekul sangat jauh (dibandingkan dengan diameter
molekul gas) sehingga pada suhu dan tekanan biasa (katakanlah, 25oC
dan 1 atm), tidak ada interaksi antara molekul yang berarti. Penggambaran yang
agak sederhana ini menjelaskan beberapa sifat khas gas. Karena terdapat banyak
ruang kosong dalam gas, yaitu ruang yang tidak ditempati molekul, gas dapat
dengan mudah dimampatkan. Tidak adanya gaya antar molekul yang kuat
memungkinkan suatu gas untuk mengembang ke seluruh volume wadahnya. Banyaknya
ruang kosong juga menjelaskan mengapa gas memiliki kerapatan yang sangat rendah
pada kondisi normal.
Nomor Atom, Nomor Massa, dan Isotop
Semua atom dapat
diidentifikasi berdasarkan jumlah proton dan neutron yang dikandungnya. Jumlah
proton dalam inti setiap atom suatu unsur disebut nomor atom. (atomic
number) (Z). Dalam suatu atom netral jumlah proton sama dengan
jumlah elektron, sehingga nomor atom juga menandakan jumlah elektron yang ada
dalam atom. Identitas kimia suatu atom dapat ditentukan cukup berdasarkan nomor
atomnya. Sebagai contoh, Nomor atom nitrogen adalah 7; ini berarti bahwa setiap
atom nitrogen netral mempunyai 7 proton dan 7 elektron. Atau dari sudut pandang
lain, setiap atom di alam yang mengandung 7 proton pasti benar jika diberi nama
“nitrogen”.
Nomor massa (mass number) (A) adalah
jumlah total neutron dan proton yang ada dalam inti atom suatu unsur.
Kecuali untuk bentuk paling umum dari hidrogen yang mempunyai satu proton dan
tidak mempunyai neutron. Secara umum, nomor massa diberikan oleh:
Nomor massa = jumlah proton + jumlah neutron
= nomor atom + jumlah neutron
Proton dan Neutron
1. Proton
Elektron dan Radioaktivitas
1. Elektron
Pada tahun 1890-an
banyak ilmuwan berlomba-lomba meneliti radiasi (radiation), yaitu pemancaran
dan perambatan energi melalui ruang dalam bentuk gelombang. Informasi yang
diperoleh dari penelitian ini memberikan sumbangan besar pada pemahaman kita
tentang struktur atom. Salah satu alat yang digunakan untuk menyelidiki
fenomena ini adalah tabung sinar katoda, cikal bakal dari tabung televisi (Gambar 2.3). Tabung itu berupa tabung kaca yang sebagian besar udaranya sudah
disedot keluar. Ketika dua lempeng logam dihubungkan dengan sumber tegangan
tinggi, lempeng yang bermuatan negatif, di sebut katoda, memancarkan
sinar yang tidak terlihat. Sinar katoda ini tertarik ke lempeng yang bermuatan
positif, yang disebut anoda, dimana sinar itu akan melalui suatu lubang
dan terus merambat menuju tabung ujung yang satunya. Ketika sinar ini menumbuk
permukaan yang telah dilapisi secara khusus, sinar katoda tersebut menghasilkan
pendaran yang kuat, atau cahaya yang terang.
Teori Atom
Pada abad kelima SM,
filsuf Yunani Democritus mengungkapkan keyakinannya bahwa semua materi terdiri
atas partikel yang sangat kecil dan tidak dapat dibagi lagi, yang ia namakan atomos
(berarti tidak dapat dibelah atau dibagi). Walaupun gagasan Democritus tidak
dapat diterima oleh kebanyakan rekan-rekannya (khususnya plato dan
Aristoteles), ternyata gagasan ini tetap bertahan. Bukti percobaan yang di
peroleh dari penyelidikan ilmiah pada waktu itu mendukung konsep “atomosme” ini
dan secara bertahap menghasilkan definisi modern tentang unsur dan senyawa.
Pada tahun 1808, seorang ilmuwan Inggris yang juga seorang guru sekolah, John
Dalton, merumuskan definisi yang presisi tentang blok penyusun materi yang
tidak dapat dibagi lagi yang kita sebut atom.
Hasil karya Dalton
menandai awal era modern dalam bidang kimia. Hipotesis tentang sifat materi
yang merupakan landasan teori atom Dalton dapat dirangkumkan sebagai berikut:
Massa Molar Unsur
Satuan massa atom
memberikan skala realtif dari massa berbagai unsur. Tetapi, karena atom hanya
mempunyai massa yang sangat kecil, tidak ada skala yang dapat digunakan untuk
menghitung satuan massa atom dalam satuan yang terkalibrasi. Dalam situasi
sebenarnya, kita berurusan dengan sampel-sampel besar dengan jumlah atom yang
luar biasanya besarnya. Karena itu akan lebih baik apabila kita memiliki satuan
khusus untuk menyatakan jumlah atom yang sangat besar. Gagasan tentang satuan
untuk menyatakan jumlah benda bukanlah hal baru. Contohnya, pasang (2 buah),
lusin (12 buah), dan gros (144 buah) adalah satuan yang sudah lama dikenal.
Kimiawan menggunakan satuan mol untuk mengukur atom dan molekul.
Pada sistem SI, mol
(mole) adalah banyaknya suatu zat yang mengandung entitas dasar
(atom, molekul, atau partikel lain) sebanyak jumlah atom yang terdapat dalam
tepat 12 g isotop karbon-12. Jumlah atom sebenarnya di dalam 12 g karbon-12
ditentukan melalui percobaan. Jumlah ini disebut bilangan Avogadro (Avogadro’s
number) (NA), untuk menghormati ilmuwan Italia, Amedeo Avogadro.
Nilai yang diterima saat ini adalah: NA = 6,0221367 x 1023.
Spektrometer Massa
Metode paling langsung dan akurat untuk
menentukan massa atom dan massa molekul adalah metode spektrometri massa,
seperti yang diperlihatkan pada gambar 3.3. Pada sebuah spektrometer massa,
suatu sampel gas ditembak oleh aliran elektron berenergi tinggi. Tumbukan
antara elektron dan atom (atau molekul) gas menghasilkan ion positif dengan
terlepasnya satu elektron dari tiap atom atau molekul. Ion-ion positif ini
(dengan massa m dan muatan listrik e) dipercepat oleh dua buah
lempeng yang bermuatan listrik berlawanan saat ion-ion tersebut melewatinya.
| Figure 3.3 Schematic diagram of one type of mass spectrometer |
Massa Atom
Massa suatu atom
terkait erat dengan jumlah elektron, proton, dan neutron yang dimiliki atom
tersebut. Pengetahuan tentang massa atom penting untuk melakukan pekerjaan di
laboratorium. Namun atom adalah partikel yang sangat kecil-bahkan butir debu
terkecil yang dapat kita lihat dengan mata telanjang memiliki 1 x 1016
atom! Jelaslah bahwa kita tidak dapat menimbang satu atom akan tetapi lewat
percobaan kita dapat menentukan massa satu atom relatif terhadap atom lainnya.
Langkah pertama adalah memberikan nilai pada massa dari satu atom unsur
tertentu agar kemudian dapat digunakan sebagai standar.
Berdasarkan perjanjian
internasional, satu atom dari isotop karbon (disebut karbon-12) yang mempunyai
enam proton dan enam neutron memiliki massa tepat 12 satuan massa atom
(sma). Atom karbon-12 ini dipakai sebagai standar, sehingga satu satuan
massa atom didefinisikan sebagai suatu massa yang besarnya tepat sama dengan
seperduabelas massa dari satu atom karbon-12.
Pengecualian Aturan Oktet
Seperti beberapa
senyawa yang telah disebutkan di awal, aturan oktet berlaku terutama untuk
unsur-unsur periode kedua. Pengecualiaan aturan oktet dapat di bagi ke dalam
tiga kategori, yang ditandai oleh oktet tak lengkap, jumlah elektron ganjil,
dan terdapat lebih dari delapan elektron di sekitar atom pusat.
1. Oktet Tak Lengkap
Pada beberapa senyawa,
jumlah elektron di sekitar atom pusat dalam suatu molekul stabil bisa kurang
dari delapan. Misalnya berilium, unsur periode kedua dan Golongan 2A, memiliki
konfigurasi elektron 1s2 2s2. Be mempunyai dua elektron
valensi pada orbital 2s. Dalam fasa gas, berilium hidrida (BeH2) terdapat
sebagai molekul terpisah. Struktur Lewis BeH2 adalah
H—Be—H
Dapat dilihat bahwa
hanya ada empat elektron di sekitar atom Be, dan tidak mungkin untuk memenuhi
aturan oktet untuk Be dalam molekul ini.
Konsep Resonansi
Ketika menggambar struktur Lewis untuk ozon (O3)
aturan oktet untuk atom O pusat dipenuhi dengan menempatkan ikatan rangkap dua
di antara atom O pusat dan salah satu dari dua atom O ujung. Kenyataannya, kita
dapat meletakkan ikatan rangkap dua tersebut pada salah satu ujung molekul,
oleh kedua struktur Lewis yang ekuivalen berikut:
Tetapi, kedua struktur Lewis ini tidak
dapat menjelaskan panjang ikatan yang sudah diketahui dalam O3.
Berdasarkan strukur
di atas, ikatan O—O dalam O3 diperkirakan akan lebih panjang
daripada ikatan O=O, karena ikatan rangkap dua telah diketahui lebih pendek
dibandingkan ikatan tunggal. Tetapi data percobaan menunjukkan bahwa panjang
kedua ikatan oksigen-dengan-oksigen adalah sama panjang (128 pm). Masalah ini
diatasi dengan menggunakan kedua struktur Lewis untuk menyatakan molekul ozon:
Muatan Formal dan Struktur Lewis
Dengan membandingkan
jumlah elektron pada suatu atom bebas dengan jumlah elektron yang terkait
dengan atom tersebut dalam struktur Lewis, kita dapat menentukan distribusi
elektron dalam molekul dan menggambarkan struktur Lewisnya yang paling mungkin.
Prosedurnya sebagai berikut: dalam keadaan bebas, jumlah elektron yang dimiliki
oleh suatu atom sama dengan jumlah elektron valensinya. (Seperti biasa, kita
tidak perlu memperhatikan elektron-elektron bagian dalam). Didalam molekul,
elektron yang dimiliki oleh suatu atom adalah elektron-elektron bebas pada atom
tersebut ditambah pasangan elektron ikatan diantara atom tersebut dengan atom
yang lain. Tetapi, karena pasangan elektron ikatan digunakan bersama oleh
atom-atom yang berikatan maka jumlah elektron pada pasangan elektron ikatan
harus dibagi secara merata diantara atom-atom yang membentuk ikatan tersebut. Muatan
formal (formal charge) suatu
atom adalah jumlah elektron valensi dalam atom bebas dikurangi jumlah elektron
yang dimiliki oleh atom tersebut di dalam struktur Lewis.
Kerja dan Kalor
Kita telah melihat
bahwa kerja dapat didefinisikan sebagai gaya F dikalikan dengan jarak d:
W
= F.d
Dalam termodinamika, kerja mempunyai arti
yang lebih luas yang mencakup kerja mekanis (misalnya, mobil derek menarik
mobil mogok), kerja listrik (baterai menyediakan elektron untuk bola lampu atau
senter), dan seterusnya. Dalam subab ini kita akan memusatkan perhatian pada
kerja mekanis.
Contoh yang berguna
tentang kerja mekanis adalah pemuaian gas (Gambar 6.5) anggaplah suatu gas
berada dalam tabung yang tertutup piston yang dapat bergerak tetapi tidak
mempunyai berat dan gesekan, pada suhu, tekanan dan volume tertentu. Ketika
memuai, gas tersebut mendorong piston keatas melawan tekanan atmosfer luar P. kerja yang dilakukan oleh:
W
=
-P∆V
Dengan
∆V, perubahan volume, diberikan oleh Vf - Vi. Tanda minus pada
persamaan di atas dibuat agar mengikuti kesepakatan untuk w. Untuk pemuaian gas, ∆V >
0, sehingga -P∆V bernilai negatif.
Untuk pemampatan gas (kerja dilakukan pada sistem), ∆V < 0, dan -P∆V bernilai
positif.
Hukum Pertama Termodinamika
The
first law of thermodynamics, yang didasarkan pada hukum kekekalan
energi, menyatakan bahwa energi dapat diubah dari suhu bentuk ke bentuk yang
lain, tetapi tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan. Bagaimana kita mengetahui
hal ini? Tidak mungkin membuktikan keabsahan hukum termodinamika pertama jika
harus menentukan kndungan energi total dalam alam semesta. Bahkan untuk
menentukan kandungan energi total dalam 1 g besi akan luar biasa sulit.
Untungnya, kita dapat menguji keabsahan hukum termodinamika pertama dengan
hanya mengukur perubahan energi dalam suatu sistem antara keadaan awal dan
keadaan akhir dalam suatu proses. Perubahan energi dalam ∆E dirumuskan dengan:
∆E = Ef - Ei
dimana
Ei dan Ef berturut-turut adalah energi dalam sistem pada
keadaan awal dan keadaan akhir.
Energi
dalam suatu sistem mempunyai dua komponen: energi kinetik dan energi potensial.
Komponen energi kinetik terdiri dari berbagai jenis gerak molekul dan gerakan
elektron dalam molekul. Energi potensial ditentukan oleh interaksi
tarik-menarik antara antara elektron-elektron dan inti dan interaksi
tolak-menolak antara elektron dan antara inti dalam molekul tunggal, juga oleh
interaksi antara molekul. Tidak mungkin untuk mengukur semua kontribusi ini
secara cepat, sehingga kita tidak dapat menghitung energi total suatu sistem
dengan pasti. Di sisi yang lain, perubahan energi dapat ditentukan secara
percobaan.
Thursday, 24 December 2015
Pengantar Termodinamika
Termokimia adalah
bagian dari pembahasan yang lebih luas yang disebut termodinamika (thermodynamics),
yaitu ilmu yang mempelajari perubahan antar kalor dan bentuk-bentuk energi yang
lain. Hukun-hukun termodinamika menyediakan panduan yang berguna untuk
pemahaman energetika dan arah proses. Dalam subbab ini kita akan memusatkan
perhatian pada hukum termodinamika pertama, yang secara khusus relevan dengan
ilmu termokimia.
Dalam
termodinamika, kita mempelajari perubahan-perubahan dalam keadaan sistem (state a
system), yang didefinisikan sebagai nilai-nilai semua sifat makroskopis
yang relevan, seperti susunan, energi, suhu, tekanan, dan volume. Energi,
tekanan, volume, dan suhu dikatakan sebagai fungsi keadaan (state
function) sifat-sifat yang ditentukan oleh keadaan sistem, terlepas
bagaimana keadaan tersebut dicapai. Dengan kata lain, ketika keadaan suatu
sistem berubah, besar perubahan dalan setiap perubahan fungsi keadaan hanya
bergantug pada keadaan awal dan keadaan akhir sistem dan tidak bergantung pada
bagaimana perubahan itu dilakukan.
